CALIFORNIA - Smartphone disinyalir akan menjadi
produk yang paling diminati oleh konsumen dalam membeli barang
elektronik pada tahun ini. Itu dikarenakan harga perangkat tersebut yang
kian terjangkau. Hal tersebut diketahui berdasarkan riset dari lembaga
riset pasar bernama Gesellschaft für Konsumforschung (GfK).
“Wilayah pertumbuhan paling pesat akan terjadi di pasar negara berkembang seperti Asia dan Afrika. Pertumbuhannya sekira 6 persen,” ucap Director of GfK Retail and Technology, Jürgen Boyny dalam konferensi IFA 2015 di Malta, seperti dikutip Fiercewireless, Selasa (28/4/2015).
Dirinya juga mengatakan, wilayah lainnya seperti Amerika juga mencatat pertumbuhan sekira 3 persen. Sementara di Eropa justru terjadi penurunan dalam penjualan smartphone sekira 2 persen.
GfK mengatakan Amerika Utara dan Eropa Barat merupakan pasar smartphone yang relatif lebih matang dibandingkan dengan kawasan Asia dan Afrika serta wilayah negara berkembang lainnya. Itulah alasan pertumbuhan penjualan smartphone di sana lebih rendah.
Sebuah laporan terbaru yang dikeluarkan oleh CCS Insight mengungkapkan, penjualan smartphone di wilayah Amerika dan Eropa Barat akan mulai menurun. Hal tersebut diakibatkan oleh siklus inovasi yang melambat.
Secara spesifik, CSS memprediksi total handset (smartphone dan feature phone) yang terjual pada 2015 mencapai 2,07 miliar unit. Angka tersebut naik 5,7 persen dari 2014.
Selanjutnya pada 2019, masih menurut CSS, akan terjual sekira 2,35 miliar handset.
“Secara global pasar smartphone akan tumbuh 1,5 persen pada 2015. Nilainya mencapai USD859 miliar. Jumlah tersebut meningkat dari 2014 nilainya hanya mencapai USD846 miliar,” demikian pungkas Jürgen.
“Wilayah pertumbuhan paling pesat akan terjadi di pasar negara berkembang seperti Asia dan Afrika. Pertumbuhannya sekira 6 persen,” ucap Director of GfK Retail and Technology, Jürgen Boyny dalam konferensi IFA 2015 di Malta, seperti dikutip Fiercewireless, Selasa (28/4/2015).
Dirinya juga mengatakan, wilayah lainnya seperti Amerika juga mencatat pertumbuhan sekira 3 persen. Sementara di Eropa justru terjadi penurunan dalam penjualan smartphone sekira 2 persen.
GfK mengatakan Amerika Utara dan Eropa Barat merupakan pasar smartphone yang relatif lebih matang dibandingkan dengan kawasan Asia dan Afrika serta wilayah negara berkembang lainnya. Itulah alasan pertumbuhan penjualan smartphone di sana lebih rendah.
Sebuah laporan terbaru yang dikeluarkan oleh CCS Insight mengungkapkan, penjualan smartphone di wilayah Amerika dan Eropa Barat akan mulai menurun. Hal tersebut diakibatkan oleh siklus inovasi yang melambat.
Secara spesifik, CSS memprediksi total handset (smartphone dan feature phone) yang terjual pada 2015 mencapai 2,07 miliar unit. Angka tersebut naik 5,7 persen dari 2014.
Selanjutnya pada 2019, masih menurut CSS, akan terjual sekira 2,35 miliar handset.
“Secara global pasar smartphone akan tumbuh 1,5 persen pada 2015. Nilainya mencapai USD859 miliar. Jumlah tersebut meningkat dari 2014 nilainya hanya mencapai USD846 miliar,” demikian pungkas Jürgen.

Blogger Comment
Facebook Comment