Kisah Pria yang Bermain Cello di Lokasi Bom Baghdad

Kisah Pria yang Bermain Cello di Lokasi Bom Baghdad
BAGHDAD – Ledakan bom bukan hal yang aneh di ibu kota Irak, Bahgdad. Namun, ada yang aneh pada peristiwa ledakan bom pekan ini.
Sesaat setelah terjadinya ledakan bom yang menewaskan sedikitnya 10 orang pada 27 April 2015, Karim Wasfi, seorang konduktor terkenal dari Orkestra Nasional Irak meletakkan kursi, duduk, dan mulai memainkan cello di lokasi ledakan tersebut.
Permainan Wasfi segera menarik perhatian tentara Irak dan orang-orang yang ada di sekitar lokasi. Mereka berkumpul dan mendengarkan musik yang mengalun dari gesekan cello sang konduktor. ‘Konser tunggal’ ini terabadikan dalam foto dan video yang disebar dan populer di media sosial.
“Itu adalah sebuah aksi pengimbang. Untuk mencapai titik tengah antara keburukan, kegilaan, dan sesuatu yang tidak enak dipandang, aksi teror yang tidak pantas dan mengimbanginya dengan sebuah keindahan, kreativitas, dan kemurnian,” ungkap Wasfi dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, Kamis (30/4/2015).
Dia ingin melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kehidupan sehari-hari di Irak, di mana kematian adalah peristiwa sehari-hari. Bagi Wasfi itu adalah tanggung jawab yang diembannya dalam keadaan Irak saat ini. Tanggung jawab untuk menginspirasi orang-orang memberikan harapan, kegigihan, dedikasi, dan keinginan untuk hidup.
Aksinya ini memberikan reaksi yang luar biasa bagi orang-orang yang menonton. “Mereka menyukainya. Mereka menangis, berciuman, bertepuk tangan, mereka merasa hidup, merasa menjadi manusia, dan merasa bernilai dan dihargai, hal itu tidak mengejutkan bagi saya,” kata Wasfi.
Wasfi tidak merasa terancam dengan sikap kelompok militan di Irak, terutama ISIS yang melarang musik untuk didengar dan diperdengarkan di Irak dan Suriah. Bahkan menurut Wasfi, dia lah yang memberikan ancaman bagi orang-orang yang berpikiran sempit dan terbelakang seperti para anggota kelompok militan.
Pria berjanggut lebat itu menyatakan bahwa saat ini musik merupakan kebutuhan yang sama penting dengan makanan, air, oksigen dan listrik bagi rakyat Irak karena kekuatan musik untuk menginspirasi. Musik adalah bahasa universal yang dapat digunakan agar orang-orang dapat saling mengerti.
“Tentu saja saya tidak dapat menantang bom dengan cello saya. Tapi setidaknya saya dapat membuktikan bahwa hidup layak untuk dialami dan dijalani,” ungkapnya.
“Ketika keadaan menjadi tidak normal dan penuh kegilaan, kita memiliki kewajiban untuk membuat kehidupan dapat dipertahankan. Saat keadaan tidak normal, kita menjadikannya normal, kita membuat sesuatu yang membuat hidup layak untuk dijalani,” katanya lagi.
Ledakan bom yang terjadi di Kota Baghdad semakin sering terjadi setelah Pemerintah Irak mencabut penerapan jam malam yang telah diberlakukan di negeri 1001 malam itu selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Kementerian Dalam Negeri Irak meyakini bahwa serangkaian pengeboman yang terjadi pekan ini adalah ulah dari kelompok militan ISIS yang melakukan pembalasan setelah kekalahan mereka di Tikrit.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment