BREAKDANCE adalah sebuah tarian jalanan yang berkembang sekitar 1970,
berasal dari Bronx, New York, Amerika Serikat. Awalnya, breakdance
hanya bergelut di kalangan anak muda Afrika-Amerika dan Puerto Riko.
Baru kemudian berkembang ke Los Angeles, hingga akhirnya populer di
seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Di Kota Tepian, tari patah-patah asal Negeri Paman Sam itu sudah dikenal pada era 80-an. Kemudian, hilang pada 90-an, baru kembali booming pada awal 2000-an. Nah, tim breakdance tertua di Samarinda baru resmi terbentuk pada 2007. Mereka menamakan diri BXRZ (dibaca Boxerz). Sabtu (25/4) lalu, mereka merayakan ulang tahun ke-8.
“Awalnya anggota tim hanya sepuluh orang,” ujar Panjul, penggerak BXRZ. Pemilik nama asli Indra itu mengatakan, anggota tim biasa berlatih di Taman Budaya, Jalan Kemakmuran.
BXRZ, dikatakan Panjul, dipilih karena memiliki makna petarung. Ia menjelaskan, nama tersebut menggambarkan b-boy dan b-girls (sebutan penari breakdance) adalah petarung di lantai dansa. “Hal positif yang diambil dari battle adalah tak menyelesaikan masalah dengan bertarung fisik, cukup adu gerakan dance,” tuturnya. Beberapa event breakdance sudah BXRZ ikuti. Baik lokal dan nasional. Pada 2011, mereka mewakili Samarinda di Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) di Jakarta.
Laki-laki jangkung itu mengatakan, breakdance sebenarnya tidak ada bedanya dengan olahraga. Sama-sama mengeluarkan keringat dan sama-sama melatih sportivitas. Seperti di film-film bertema breakdance, saat adu dansa dimulai, setiap tim mengintimidasi lawannya. “Kadang terlihat mau berkelahi betulan, padahal kalau di luar kami tetap berteman. Hanya gimmick saja,” terangnya.
Masalahnya, breakdance tak begitu berkembang di Kaltim. Kemungkinan karena masih dianggap hobi yang ekstrem. Panjul menyebut, hal itu jadi pekerjaan rumah mereka. BXRZ mesti mengubah citra tarian asal Amerika Serikat itu. “Ini adalah tarian universal, semua boleh masuk, semua boleh menari,” terangnya. Alasan lain tarian ini kurang berkembang karena para pemula kurang gigih. Tidak dimungkiri, trik dan gerakan tarian ini relatif susah. “Saya sendiri, baru bisa mahir setelah empat tahun berlatih,” ungkapnya.
Delapan tahun berdiri, BXRZ punya keinginan bisa membangun sekolah dance di Kaltim. “Di Jawa sudah lama dimulai,” ucapnya. Dengan bibit muda yang berlatih sejak kecil diharap akan ada penari breakdance profesional. (*/fch/er/k8)

Blogger Comment
Facebook Comment